Keempat : Ushulu Tsalatsah (Tiga Pertanyaan Kubur)
Kemudian apabila anda ditanya: apakah Ushulu Tsalatasah (tiga pertanyaan kubur), yang wajib diketahui oleh manusia? Maka hendaklah anda jawab: yaitu mengenal Allah Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.(1)
Apabila anda ditanya: siapakah Tuhanmu? Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikaruniakan-Nya. Dialah sesembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haq selain Dia. Allah ta’ala berfirman:
الْحَمْدُ للَهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam.” (QS. Al-fatihah : 1).(2)
Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah bagian dari semesta alam ini. (3)
(1). Penulis rahimahullah mulai menyebutkan Ushulu Tsalatsah, dan itu adalah tiga pertanyaan kubur. Beliau juga merangsang perhatian pembaca dan pendengar dengan metode bertanya kemudian beliau menjawabnya.
(2). Disini beliau memaparkan pokok pertama, yaitu bahwa pencipta dan yang berhak diibadahi adalah Allah Ta’ala. Dalillnya adalah firman Allah:
الْحَمْدُ للَهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam.” (QS. Al-fatihah : 1).
Pada Ayat ini terkandung tiga macam tauhid:
1. Penetapan tauhid asma wasifat pada (الحمد).
2. Penetapan tauhid uluhiyah pada (لله).
3. Penetapan tauhid rububiyah pada (ربّ).
(3). Yakni, setiap selain Allah adalah makhluk. Dan jikalau saya adalah makhluk, maka saya harus bersyukur kepada Sang Pencipta yang memberi nikmat dan keutamaan.
Selanjutnya, jika anda ditanya: melalui apa anda mengenal Tuhanmu? Maka hendaklah anda jawab: melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah: malam, siang, matahari dan bulan. Sedangkan diantara ciptaan-Nya ialah: tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi juga yang ada diantara keduanya. Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴿٣٧﴾
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu sujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu banar-benar hanya kepada-Nya beribadah.” (QS. Fushshilat : 37).
Dan firman-Nya:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha suci Allah Tuhan semesta alam.” (Surat Al-A’raf : 54). (1)
Kata Ar-Rab maknanya adalah yang disembah.. Dalilnya, firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَآء بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang- orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Robb) yang telah menjadikan untukmu bumi ini sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mngetahui.” (Surat Al-Baqarah: 21-22). (2)
Ibnu katsir rahimahullahu ta’ala, berkata: Yang mencipta segala sesuatu ini, dialah yang berhak untuk diperuntukan kepadanya ibadah. (3)
(1). Penulis rahimahullah mulai menyebutkan ayat-ayat kauniyah dan makhluk-makhluk yang menunjukan adanya Allah dan yang menunjukan bahwa Dia sematalah sebagai Rab dan Pencipta serta tidak ada yang berhak diibadahi dengaan hak melainkan Dia. Kemudian beliau membawakan dalil-dalil dari Al-Qur’an sebagaimana yang termaktub dalam kitab.
- setiap makhluk adalah ayat (petunjuk) akan adanya Allah ta’ala. Namun, disini syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membedakan antara ayat dan makhluk. Alasanya adalah karena ayat itu berubah-ubah, seperti malam dan siang. Dan sesuatu yang berubah-ubah memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan dengan yang tidak berubah-ubah.
(2). Ayat ini, sebagaimana terdapat dalam surat al-Baqaroh, sebagian para ulama mengatakan ayat ini terdapat didalamnya:
Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah (1) antara lain adalah: Islam, iman, ihsan, doa, khauf (takut), roja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (mengharap), rahbah (cemas), khusyu’ (tunduk), khasyyah (takut), inabah (kembali kepada Allah), isti’anah (memohon pertolongan), isti’azah (memohon perlindungan), istighatsah (memohon keselamatan), menyembelih, nazar, dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً
Dan sesungguhnya masji-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu, janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah Allah).” (QS. Al-Jin: 18).
Karena itu, barangsiapa yang memalingkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Allah Ta’ala berfirman :
(وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ الهاً آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ)
“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain selain Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Mu’minun: 117).
Dan diriwayatkan dalam hadits:
الدعاء مخ العبادة
“Do’a itu adalah inti sari ibadah.”
Dalilnya adalah firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan bagimu’. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beibadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60).
1. Seruan pertama dalam al Qur’an pada:
“Wahai manusia.”
2. Awal perintah dalam al Qur’an pada:
“Sembahlah”
Yakni: tauhidkanlah.
3. Awal larangan dalam al Qur’an pada:
فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mngetahui.”
(3). Bahwa yang esa dalam tauhid rububiyah wajib untuk diesakan dalam tauhid uluhiyah.
(1). Setelah penulis menyebutkan perkataan Ibnu Katsir, beliau kemudian menyebutkan beberapa ibadah hati dan ibadah badaniyah disertai dalil dari Al-Qur’an pada setiap amalan. Perinciannya sebagai berikut:
Macam-macam doa
| Doa ibadah yaitu doa dengan keadaan; seperti shalat, puasa dan haji. | Doa masalah yaitu doa dengan permintaan lisan. Seperti ucapan: ”ampunilah saya” atau “rahmatilah saya”. |
| Doa ini bila dipalingkan kepada selain Allah maka masuk pada syirik besar. | Hukum dari doa ini harus dirinci, yang mana doa ini terbagi menjadi dua. dengan penjelasan sebagai berikut: |
Dua macam doa masalah (permintaan)
| Yang tidak dimampui kecuali Allah Dipalingkan kepada selain-Nya syirik besar. | Yang dimampui oleh hamba Dibenarkan, dengan syarat-syarat sebagai berikut: |
| Yang dimintai adalah hidup, tidak mati. | Yang dimintai harus ada, bukan yang ghaib | Yang dimintai harus mampu, bukan yang tidak mampu. | keyakinan bahwa yang dimintai hanya sebagai sebab. |
- Berkaitan dengan sebab, tidak boleh kita meyakini bahwa sebab tersebut dapat berpengaruh dengan sendirinya. Adapun kalau seseorang meyakini bahwa yang dimintai dapat memberi pengaruh dengan sendirinya di alam ini, bahwa dia bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot, maka itu termasuk kesyirikan.
- Sebagai catatan, bahwa kita hanya mempelajari hukum yang berkaitan dengan hukum-hukum perbuatan. Adapun hukum yang berkaitan dengan pelaku perbuatan, maka itu butuh iqamatul hujjah (penegakan bukti) dan hilangnya syubhat yang merasuki pelaku perbuatan tersebut. Dalam hal ini mereka para ulamalah yang berkompoten dalam menghukumi palaku perbuatan, apakah dia masih Islam atau telah keluar dari Islam.
Pembagian manusia dalam mengambil sebab
| Meyakini sebab yang dijadikan oleh Allah sebagai sebab Hukumnya sah, dan terbagi menjadi dua | Meyakini suatu sebab yang tidak dijadikan oleh Allah sebagai sebab Hukumnnya syirik kecil | Meyakini sebab bisa bepengaruh dengan sendirinya dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudharot Hukumnya syirik besar |
| Sebab syar’iyah seperti ruqyah, yang mana Allah telah menjadikan ruqyah sebagai sebab syar’iyah untuk menyembuhkan penyakit. | Sebab hissiyah (perasa) seperti obat, yang mana Allah telah menjadikannya sebagai sebab untuk menyembuhkan penyakit. |
- Hadits yang berbunyi: الدعاء مخ العبادة (doa adalah intisari dari ibadah), Adalah hadits lemah. Adapun hadits sahih dari Nabi Muhammad tentang ini adalah: الدعاء هو العبادة (Doa itu adalah ibadah).
- Pertanyaan: bagaimana doa bisa masuk dalam ibadah?
Jawabannya, bahwa itu telah ditunjukan dalam ayat al Qur’an. Allah ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdo’alah kamu kepadaku niscaya akan Ku perkenankan bagimu’. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beibadah kepadaKu pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60).
Firman Allah: (عبادتي) setelah awalnya menyebutkan (ادعوني) menunjukan bahwa doa adalah ibadah.
Dalil khauf (takut), firman Allah Ta’ala:
(فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ)
Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175). (1)
(1). Takut adalah reaksi yang timbul akibat kemungkinan terjatuh pada kebinasaan atau bahaya atau gangguan.
Dan sesungguhnya Allah telah melarang untuk takut kepada wali-wali setan dan supaya hanya takut kepada-Nya semata.
Macam-macam takut
| Takut ibadah atau takut pengagungan atau takut tersembunyi Yaitu takutnya seorang hamba kepada yang disembahnya; didalamnya ada ketundukan, penghinaan diri dan pengagungan terhadap yang disembah. Takut ini wajib diperuntukan kepada Allah, dipalingkan kepada selain-Nya syirik besar. *9 | Takut yang merupakan tabiat dan jibilli (fitrah) Yaitu seperti takutnya manusia kepada api, musuh, hewan buas dan seterusnya. Takut ini adalah takut yang diperbolehkan. | Takut yang diharamkan Yaitu seperti berputus asa dari rahmat Allah dan taat terhadap makhluk dengan bermasiat kepada Sang Pencipta. |
Dalil roja, firman Allah Ta’ala:
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 110). (1)
Dalil tawakkal, firman Allah Ta’ala:
وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
‘Dan hanya kepada Allah-lah kamu betawakkal, jika kamu benar-banar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah : 23).
Dan firmannya :
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dialah Yang Mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq : 3).(2)
Dalil raghbah, rahbah (cemas) dan khusyu’ (tunduk), (3) firman Allah:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh cinta dan takut, sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami.(QS. Al-Anbiya : 90).
(1). Roja (harapan) adalah keinginan manusia terhadap perkara yang dekat untuk diperoleh walaupun terkadang perkaranya jauh, tetapi didudukan seperti perkara yang dekat.
Harapan yang terkandung di dalamnya ketundukan dan penghinaan diri, tidak boleh diperuntukan melainkan hanya kepada Allah. Jika dipalingkan kepada selain-Nya, maka masuk dalam syirik besar.
Harapan yang terpuji tidak didapatkan melainkan mereka yang beramal untuk Allah dan mengharap pahala-Nya atau bertaubat dari maksiat kepadaNya dengan mengharap ampunan-Nya. Adapun harapan yang tidak diiringi amalan maka itu adalah ketertipuan dan angan-angan yang tercela.
(2). Pengertian tawakal
| Secara bahasa: bertawakal kepada sesuatu berarti bersandar kepadanya. | Secara istilah: benarnya penyandaran kepada Allah dan percaya kepada-Nya disertai mengambil sebab yang disyariatkan. |
Tiga perkara yang harus dipenuhi dalam tawakal
| Benarnya penyandaran kepada Allah. | Mengambil sebab yang disyariatkan. | Percaya bahwa Allah akan merealisasikan janji-Nya. |
(2) - Arraghbah adalah kecintaan untuk sampai kepada sesuatu yang dicintai.
- Arrahbah adalah ketakutan yang membuahkan penyelamatan diri dari yang ditakuti; yakni ketakutan yang disertai amal.
- Alkhusyu adalah ketundukan dan penghayatan terhadap kebesaran Allah, dengan memasrahkan diri terhadap ketetapan-Nya, baik ketetapan kauni maupun ketetapan syar’i.
- Seorang yang berjalan menuju Allah ia harus menggabungkan antara takut dan harapan. Dan jangan menjadikan yang satu mendominasi yang lainnya. Kalau tidak, ia akan terjatuh dan hancur. Maka tidak boleh tidak, takut dan harapan harus senantiasa mengiringi seseorang seperti dua sayap burung.
- Dalil khasyah (takut) (1), firman Allah Ta’ala :
- فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي...
- “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al- Baqarah : 150).
- Dalil inabah (kembali kepada Allah) (2) , firman Allah:
- وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ...
- “Dan kembalilah kepada Robb kalian serta berserah dirilah kepada- Nya (dengan mentaati perintah-Nya) sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong lagi.” (QS. Az-Zumar : 54). (2)
- Dalil isti’anah (3) (memohon pertolongan), firman Allah:
- إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
- “Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah :4).
- Dan diriwayatkan dalam hadits: “Apabila kamu mohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah.”
- Dalil isti’adzah (memohon perlindungan) (4):
- قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
(1). Alkhasyah adalah takut yang terbagun di atas pengilmuan terhadap keagungan dan kesempurnaan kekuasaan yang ditakutinya.
(2). Inabah adalah kembali kepada Allah dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat kepadaNya. (وَأَنِيبُوا) yakni kembalilah,
(إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ), yakni kalian menyerahkan urusan kalian kepada Allah, karena kalian adalah sebagai seorang hamba. Yang mana seorang hamba harus pasrah kepada tuannya. Dan tuan itu adallah Allah yang Maha Suci. Rasulullah bersabda: “tuan itu adalah Allah.”
(3). Isti’anah adalah meminta pertolongan.
(إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ), dalam ayat ini ada pendahuluan kalimat yang seharusnya diakhirkan; ini memiliki maksud untuk memberikan pembatasan. Yakni; kami tidak menyembah melainkan kepadamu saja dan kami tidak meminta pertolongan melainkan kepadamu saja.
4) Isti’adzah adalah meminta perlindungan, yakni perlindungan dari mara bahaya. (أَعُوذُ), berarti saya meminta pertolongan dan perlindungan.
“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” (QS. Al-Falaq : 1).
Dan firman-Nya
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
“Katakanlah : ‘Aku berlindung kepada Tuhan Manusia, Penguasa manusia.” (QS. An- Nas : 1-2).
Dalil istighatsah (memohon keselamatan), firman Allah ta’ala:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ...
“(Ingatlah) tatkala kamu memohon keselamatan kepada Tuhan kalian untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal : 9).(1)
Dalil dzabh (menyembelih), Firman Allah Ta’ala:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَه وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah : ‘Sesunggunya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Robb semesta alam, tiada sesuatupun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang-orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya).” (QS. Al-An’am: 162-163). (2)
Dan dalil dari sunnah: “laknat Allah atas mereka yang menyembelih (binatang) untuk selain Allah.”
(1) Istighatsah adalah meminta keselamatan yaitu supaya dibebaskan dari bahaya dan kebinasaan.
- Isti’anah, isti’adzah, istighatsah dan syafa’at diperbolehkan untuk diminta kepada makhluk. Akan tetapi, hanya terhadap perkara-perkara yang dimampui oleh makhluk, dengan empat syarat: hidup, hadir, mampu dan menjadikannya hanya sebagai sebab.
(2). Azzabh (menyembelih) adalah membunuh binatang dengan mengalirkan darahnya dengan tata cara yang dikhususkan.
| Menyembelih karena Allah, seperti sembelihan untuk haji, kurban dan sedekah. | Menyembelih untuk selain Allah disertai cinta dan pengagungan, seperti sesembelihan untuk jin dan penghuni kubur, ini adalah syirik. | Sembelihan yang mubah (boleh), seperti sembelihan untuk dimakan, memuliakan tamu dan dijual. |
- Catatan: disana masih ada penjabaran mengenai sembelihan. Hal ini akan dibahas pada kitab tauhid.
Dalil nadzar, firman Allah Ta’ala :
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْماً كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيراً
“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksaannya merata di mana-mana.”(QS. Al-Insan : 7).(3)
(3) Pengertian nazar
| Secara bahasa: janji dan mewajibkan | Secara istilah: penetapan kewajiban seseorang atas dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang asalnya tidak wajib. |
Macam-macam nazar
| Nazar untuk selain Allah | Nazar untuk Allah |
- Catatan: bahwa nazar memiliki pembagian-pembagian, syarat-syarat dan kafarah (tebusan), yang penjabarannya akan dibahas dalam Kitab Tauhid.
- Apa yang disebutkan penulis dalam kitab ini dari berbagai macam ibadah bukan merupakan pembatasan, akan tetapi hanya sebagai permisalan. Sebab disana masih banyak ibadah-ibadah lain yang tidak beliau sebutkan. Namun yang perlu dipahami disini bahwa barang siapa yang memalingkan ibadah kepada selain Allah, maka ia telah melakukan perbuatan kesyirikan.
Pokok yang kedua: mengetahui agama Islam dengan dalil-dalilnya
Islam ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepadaNya dengan penuh ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.
Agama Islam, dalam pengertian tersebut mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan; dan masing-masing tingkatan ada rukun-rukunnya.
Tingkatan pertama : Islam (1)
Rukun Islam ada lima : Syahadat (persaksian) La ilaha illallah (tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) (2) dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya), mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan suci ramadhan dan haji ke Baitullah Al-Haram.
(1). Penulis rahimahullah pada pembahasan ini akan menjelaskan pokok yang kedua, yaitu pengetahuan seorang hamba terhadap agamanya. Dan beliau memulainya dengan pengertian Islam.
| Islam ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepadaNya dengan penuh ketaatan, serta berlepas diri dari kesyrikan dan pelakunya. |
Pengertian Islam ini mengharuskan untuk pasrah kepada Allah, karena kita adalah seorang hamba. Namanya seorang hamba, maka ia harus pasrah kepada sang tuan. Dan tuan itu adalah Allah, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah.
Tingkatan-tingkatan Islam
Adapun dalil syahadat La ilaha illallah, firman Alah Ta’ala :
شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ اله إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ اله إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan. (juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali-Imran : 18).
Makna “La Ilaaha Illallah” adalah tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Syahadat ini mengandung dua unsur: Meniadakan dan menetapkan. “La Ilaaha”, adalah meniadakan segala sesembahan selain Allah. “Illallah”, adalah menetapkan bahwa ibadah (penghambaan) itu hanya untuk Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan, sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kakuasaan-Nya.
Tafsir makna syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Ta’ala:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَآء مِّمَّا تَعْبُدُونَ * إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ * وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : ‘Sesungguhnya aku menyatakan berlepas diri dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakanku, kerena sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk. ‘Dan (Ibrohim) mejadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid).” (QS. Az-Zukhruf : 26-28).
- Islam
- Iman
- Ihsan
(2). Rukun Islam ada lima. Yang pertama adalah As-syahadah (persaksian) La ilaha illallah.
Disini, penulis rahimahullah menyebutkan dalil persaksian “Laa ilaha illallah” disertai dengan penjelasan maknanya. Adapun makna “Laa ilaha illallah” adalah tidak ada illah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah.
Dalam persaksian kalimat syahadat ini terkandung di dalamnya penafian (peniadaan) dan itsbat (penetapan).
● Penafian terdapat pada “Laa ilaha” (tidak ada sesembahan).
● Itsbat terdapat pada “illallah” (kecuali Allah).
Dalam konteks ini (penafian dan itsbat) memberikan faedah pembatasan dan penetapan. Yakni membatasi dan menetapkan ibadah hanya untuk Allah semata serta menafikannya dari selain-Nya.
Oleh karena itu, penulis berkata: adapun tafsirnya yang menjelaskannya adalah
Dan firman-Nya:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah (Muhammad) : ‘Hai Ahli Kitab! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu : hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka : ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerah diri kepada Allah).” (QS. Ali Imran : 64).(1)
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَآء مِّمَّا تَعْبُدُونَ * إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : ‘Sesungguhnya aku menyatakan lapas diri dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakanku, kerena sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk.
firman Allah: (aku berlepas diri dari yang kalian sembah), ini adalah makna dari “Laa ilaha” (tidak ada sesembahan). Dan firman-Nya: (kecuali Tuhan yang telah menciptakanku), ini adalah makna dari “illallah”.
● Jikalau ada yang berkata: makna Laa ilaha illallah adalah tidak ada sesembahan melainkan Allah, maka ini adalah batil. Karena penafsiran ini akan membenarkan semua yang disembah selain Allah. Namun ketika kita tambah dengan perkataan yang hak (benar), ini akan membatilkan semua sesembahan yang disembah selain Allah dan menetapkan sesembahan yang hak hanya milik Allah.
● Kalau ada yang berkata: makna La ilaha illallah adalah tidak ada pencipta yang hak melainkan Allah, maka kita katakan, ini adalah benar. Namun bukan merupakan tafsir dari Laa ilaha illallah, karena ini merupakan tauhid rububiyah yang telah ditetapkan orang-orang musyrik di zaman Rasulullah. Akan tetapi, pengikraran mereka terhadap tauhid rububiyah tersebut tidak dapat memasukan mereka ke dalam Islam.
(1). Firman Allah:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
“Katakanlah (Muhammad) : ‘Hai Ahli Kitab! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kami.”
Ayat ini merupakan bantahan atas ajakan untuk mempersatukan semua agama.
Adapun dalil persaksianbahwa Muhammad itu Rasulullah yaitu firman Allah:
لَقَدْ جَآءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat mengiginkan (keimanan dan keselamatan) untuk kalian, dan amat belas kasih lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah : 128). (1)
Makna persaksian bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, adalah mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang dan yang dicegahnya, serta tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang disyariatkannya. (2)
(1). Penulis rahimahullah membawakan ayat ini, sebagai dalil persaksian “asyhadu Anna Muhammadar rasuulullah (Muhammad itu adalah utusan Allah”. Dimana dalam ayat ini Allah telah memperkuat persaksian ini dengan tiga penguat:
Kata sumpah yang disembunyikan, huruf lam, dan lafadz (قد).
(2). Disini, penulis rahimahullah menjelaskan makna syahadat “asyhadu anna muhammadarrasulullah” dan wajibnya seorang muslim dan muslimat untuk merealisasikan makna syahadat ini. Adapun maknanya adalah mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang dan yang dicegahnya, serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan-Nya.
Kandungan persaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah (yakni: beliau adalah hamba yang tidak boleh diibadahi dan seorang Rasul yang tidak boleh didustakan):
| Kita mentaatinya pada setiap yang diperintahkannya karena beliau adalah muballigh (penyampai) dari Allah. | Membenarkan apa yang dikabarkannya yang mana beliau adalah seorang yang terpercaya dan dipercaya. | Meninggalkan apa yang dilarang dan dicegahnya yaitu dengan meletakan larangan di suatu kutub dan anda di kutub yang lainnya. | Tidak beribaddah kepada Alah melainkan dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Ini adalah bantahan terhadap pelaku ahli bid’ah. |
Dalil shalat, zakat dan tafsir kalimat tauhid, firman Allah Ta’ala :
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kapada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).(1)
Dalil Puasa, firman Allah Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183).(2)
Dalil haji, firman Allah Ta’ala:
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Dan wajib bagi manusia melakukan haji untuk Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) semesta alam.” (QS. Ali Imran : 97).(3)
(1). Rukun kedua : Shalat
Yaitu ibadah kepada Allah dengan ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat merupakan tiang agama yang diwajibkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam secara langsung; yaitu ketika Rasulullah dimi’rajkan (diangkat) ke atas langit.
Rukun ketiga: Zakat
Zakat secara bahasa berarti sesuatu yang berkembang dan disucikan.
Zakat ada dua macam:
1.zakat badan
2. zakat harta
(2). Rukun keempat : Puasa
Puasa secara bahasa: menahan diri
Adapan secara istilah syariat: beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari yang membatalkan puasa disertai niat, dimulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam.
Puasa merupakan salah satu ibadah yang paling utama dibandingakan dengan yang lainnya, karena terkumpul di dalamnya tiga macam sabar. Salah satu yang menunjukan tingginya kedudukan puasa adalah Allah menyandarkan pahala orang-orang yang berpuasa.kepada diri-Nya sendiri.
Tingkatan kedua: Iman, yang terdiri dari kurang lebih tujuh puluh tiga cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat “Laa Ilaha Illallah”, sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu cabang dari iman. Rukunnya ada enam sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulullah, yaitu:
“engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malikatNya, kepada kitab-kitab-Nya kepada para Rasul-Nya, kepada hari akhirat, dan beriman kepada takdir baik dan buruk. Dalil keenam rukun ini, firman Allah Ta’ala :
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
“Bukanlah kebaikan itu sekedar menghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah timur dan barat, akan tetapi kebaikan yang sebenarnya ialah engkau beriman kepada Allah, hari akhirat, para malaikat, kitab-kitab dan Nabi- Nabi…” (QS. Al-Baqarah : 177).
Dan dalil takdir adalah firman Allah Ta’ala :
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al- Qamar : 49).
(3). Rukun kelima : Haji
Haji secara bahasa: Al Qasd (berniat)
Adapun secara istilah syariat: beribadah kepada Allah dengan mengerjakan manasik, sesuai dengan ajaran Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam.
Haji merupakan kewajiban seorang muslim satu kali dalam seumur hidup.
Tingkatan yang kedua : Iman
Iman secara bahasa: iqror (pengakuan).
Secara istilah syariat: ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, amalan dengan anggota badan dan hati, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Jadi iman secara syariat harus terpenuhi lima unsur di atas. Jika tidak terpenuhi salah satunya, maka telah keluar dari pengertian Ahlu Sunnah Waljama’ah.
Mana dalil kelima unsur tersebut?
Yaitu sabda Rasulullah: Cabang yang paling tinggi ialah syahadat “ Laa Ilaha Illallah”,
Ini merupakan dalil tentang ucapan.
“Sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan.”
Ini adalah dalil tentang amalan badan.
“Dan sifat malu adalah salah satu cabang dari iman.”
Ini adalah tentang amalan hati.
Adapun dalil iman bertambah dan berkurang adalah firman Allah:
أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَاناً
“Siapa diantara kalian yang bertambah imannya.”
Ini adalah dalil bahwa iman itu bertambah. Jikalau iman bertambah maka pasti juga akan berkurang. Dan kurangnya agama telah disebutkan dalam hadits Rasulullah secara jelas. Beliau bersabda:
“Saya tidak melihat yang kurang akalnya dan agamanya yang dapat menundukan laki-laki perkasa, seperti kalian para wanita.” (Al Hadits)
Hadits ini menunjukan bahwa agama seseorang dapat berkurang.
Rukun Iman
| Beriman kepada Allah. | Beriman kepada para malaikat. | Beriman kepada kitab-kitab. | Beriman kepada para Rasul. | Beriman kepada hari akhir. | Beriman kepada takdir baik dan takdir buruk. |
Rukun Pertama : Beriman Kepada Allah Melazimkan empat perkara
| Beriman dengan wujud Allah, dan terealisasi dengan empat perkara: | Beriman dengan tauhid rububiyah | Beriman dengan tauhid uluhiyah | Beriman dengan tauhid asma wasifat |
Beriman dengan wujud Allah, dan terealisasi dengan empat perkara:
| Dengan akal Mustahil bagi akal akan menggambarkan adanya makhluk tanpa adanya sang pencipta. Allah berfirman: أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri( ? | Dengan hissi (perasa) Ini bisa dirasakan ketika dalam kesempitan dan bahaya, dimana engkau mengangkat tanganmu sambil berkata: “wahai Tuhanku…” lalu kamu mendapatkan kesulitanmu hilang dengan izin-Nya. | Dengan fitrah Rasulullah bersabda: “setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. | Dengan syariat Ibnu Qoyyim berkata: “tidak ada satu ayat pun di dalam Al Qur’an melainkan di dalamnya ada dalil tentang tauhid. |
Rukun Kedua : Beriman Kepada Para Malaikat
Malaikat adalah makhluk alam ghaib yang Allah ciptakan dari cahaya. Mereka selalu taat dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah. Mereka memiliki arwah sebagaimana firman Allah:
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ
“Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar.”
memiliki jasad, sebagaimana firman Allah:
جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ
Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.
Juga memiliki akal dan hati sebagaimana firman Allah:
حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ
“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?”
Kita beriman dengan adanya mereka, dan beriman dengan semua nama mereka yang Allah beritakan kepada kita semua, (seperti Jibril, Mikail dan Israfil). Juga beriman dengan sifat-sifat mereka sebagaimana yang Allah firmankan:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”
Demikian pula, kita beriman dengan amalan-amalan mereka, (seperti malaikat pemikul ‘arsy). Serta beriman terhadap semua kabar-kabar tentang mereka, baik itu secara global maupun secara tafsil (rinci).
Rukun Ketiga: Beriman Kepada Kitab-Kitab
Wajib bagi kita untuk beriman bahwa itu adalah kalam Allah secara hakikat dan bukan majas, sebagai kitab yang diturunkan bukan sebagai makhluk, dan bahwa Allah menurunkan kitab bersama setiap Rasul. Kita beriman dengannya dan beriman dengan semua nama kitab-kitab tersebut, kabar-kabarnya dan semua hukum-hukumnya, secara global maupun secara rinci selama hukum-hukumnya belum dihapus. Begitu pula, kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah sebagai penghapus semua kitab-kitab terdahulu; seperti Taurat, Injil, Zabur, Suhuf Ibrahim dan Suhuf Musa.
Rukun Keempat : Beriman Kepada Para Rasul
Wajib bagi kita untuk mengimani bahwa mereka hanyalah manusia yang tidak memiliki kekhususan rububiyah sedikit pun dan mereka adalah hamba yang tidak boleh diibadahi. Dan bahwa Allah telah mengutus dan menurunkan wahyu kepada mereka serta membantu mereka dengan mukjizat-mukjizat.
Wajib pula bagi kita untuk mengimani bahwa mereka telah menunaikan amanah, menasehati umat, menyampaikan risalah dan berjihad dengan sebenar-benarnya jihad. Kita beriman kepada mereka, dan dengan semua apa yang Allah ajarkan kepada kita dari nama-nama mereka, sifat-sifat mereka dan kabar-kabar tentang mereka, secara global maupun secara tafsil (rinci). Nabi pertama adalah Adam ‘alaihi sallam, Rasul pertama adalah Nuh ‘alaihi sallam dan penutup mereka adalah Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam.
Kita pun wajib mengimani bahwa semua syariat terdahulu telah dihapus dengan syariat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ulul ‘azmi ada lima sebagaimana disebutkan dalam surat As-Syuro dan Al-Ahzab: (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, Nuh ‘alaihi sallam, Ibrahim ‘alaihi sallam, Musa ‘alaihi sallam dan Isa ‘alaihi sallam).
Rukun Kelima : Beriman Kepada Hari Akhir
Terkandung di dalamnya keimanan terhadap semua yang dikabarkan oleh Rasulullah shlallhu ‘alaihi wasallam setelah kematian. Seperti fitnah kubur, peniupan sangkakala, bangkitnya manusia dari kuburan mereka, timbangan amal, catatan amal, shirat, telaga, syafaat, surga, neraka, penglihatan orang-orang yang beriman terhadap Tuhan mereka pada hari kiamat dan di surga, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan perkara-perkara yang ghaib.
Rukun Keenam : Beriman dengan Takdir Baik dan Buruk.
Dalam rukun ini, wajib kita mengimani empat perkara:
| Ilmu Yaitu beriman bahwa Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu secara detail dan terperinci. | Penulisan Beriman bahwa Allah telah menulis setiap takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. | Masyiah (kehendak) Beriman bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Dan bahwa seorang hamba memiliki kehendak, namun dibawah kehendak Allah. | Penciptaan Beriman bahwa Allah pencipta semua makhluk dan pencipta para hamba yaitu mereka dan juga amalan-amalan mereka. sebagaimana firman Allah: “Dan Allah adalah pencipta segala sesuatu.”(Az-Zumar :62) “Dan Allah yang menciptakan kalian dan perbuatan kalian. (As-Shafat : 96). |
Tingkatan ketiga : Ihsan yang terdiri dari satu rukun
“Beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihatNya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Dalilnya, firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
“Sesunggunya Allah besama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl : 128 ),
dan firman-Nya:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ * الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ * إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetehui.” (QS. Asy-syuaraa’ : 217-220).
Dan firman Allah:
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوداً إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ
"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…” (QS. Yunus : 61).
Empat perkara ini dikumpulan dalam bait syair:
عِلْمٌ، كِتابَةُ مَولَانَا، مَشِيْئَتُه وَخَلْقُهُ وَهُو إيْجَادٌ وَتَكْوِيْنُ
Ilmu, penulisan Tuhan kita, dan kehendak-Nya
dan penciptaan-Nya yaitu menjadikan dan mengadakan
Tingkatan yang ketiga : Al Ihsan
Ihsan, rukunnya hanya satu, dan di bawah rukun ini ada dua tingkatan:
| Ibadah musyahadah (persaksian) Yaitu ibadah yang disertai dengan cinta, harapan dan kerinduan apa yang ada di sisi Allah. Seperti ibadahnya para Nabi dan Rasul. Ibadah seperti ini memungkinkan untuk dilakukan oleh selain mereka. | Ibadah muroqabah (merasa diawasi) Yaitu ibadah yang diiringi rasa takut. Tingakatan ini tidak ada seorang muslim yang keluar darinya. |
Adapun dalilnya dari sunnah ialah hadits Jibril yang terkenal, yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : suatu hari kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam), seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?”, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menjawab: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Illah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadhan dan menunaikan haji jika mampu”. Dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman?” Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Dia berkata: “anda benar”. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan kepadaku tentang ihsan?” Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya, maka yakinlah Dia melihat engkau.” Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat?” Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Lalu dia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?” beliau bersabda: “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunannya.” kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) berkata: “wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian. (HR. Muslim)
Hadist ini merupakan dalil atas rukun Islam, iman dan ihsan.
Jawaban Rasulullah ketika ditanya tentang hari kiamat: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya,” menunjukan bahwa tidak ada yang tahu tentang datangnya hari kiamat kecuali Allah.
Perkataan Rasulullah : “seorang budak melahirkan tuanya,” ada empat makna:
| 1. Banyaknya kedurhakaan |
| 2. Banyaknya perbudakan |
| 3. Perubahan keadaan yang cepat |
| 4. Bahwa seorang pemilik budak wanita menikahi budaknya tersebut lalu melahirkan anak untuknya. Sehingga anak ini menjadi tuan atas ibunya setelah ayahnya meninggal. |
“Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunannya.” Ini menunjukan perubahan keadaan manusia, yang mana tadinya dia seorang yang fakir kemudian menjadi seorang yang kaya namun buruk.
Faedah-faedah dari hadits Jibril:
- Bahwa seorang penuntut ilmu memiliki enam kewajiban : hak untuk dirinya sendiri, hak untuk gurunya, hak tempat dimana ia belajar, hak teman-temannya, hak kitabnya, hak bagi ilmu yang dipelajarinya.
● Hak bagi dirinya sendiri: Ilmu adalah ibadah (maka harus ikhlas dan mutaaba’ah), jadilah salafi sejati, takut, muroqobah (merasa diawasi), rendah diri, menghilangkan sifat sombong, qona’ah, zuhud, menghiasi diri dengan keindahan ilmu, beretika, berhias dengan sifat laki-laki, meninggalkan kemewahan, berpaling dari majelis yang sia-sia, menghiasi diri dengan kelembutan, kokoh dan mantap, semangat, rakus dalam menuntut ilmu, rihlah, mengikat ilmu, menjaga kosentrasi, menjaga hafalan, menguasai ilmu dengan mengeluarkan cabang dari usulnya, bergantung kepada Allah, amanah, jujur, tameng penuntut ilmu (saya tidak tahu), menjaga modal harta (waktu), mengistrahatkan jiwa (pengetahuan umum), membaca untuk dibenarkan dan untuk diteliti, melepas keinginan-keinginan, pintar bertanya, baik dalam menyimak dan memahami, beramal, berdiskusi tanpa menentang, menghafal, mempelajari ilmu, hidup diantara Al-Quran dan sunnah serta ilmunya, menyempurnakan ilmu alat dari setiap pengetahuan, menjauh dari : (cinta untuk terkenal, popularitas dan dunia), buruk sangka terhadap jiwa, berbuat baik pada orang, menzakatkan ilmu, mantap di atas kebenaran, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, menimbang maslahat dan mudhorot, menyebarkan ilmu, mencintai manfaat, mengerahkan kemampuan, memberi syafaat kepada seorang muslim yang benar dan jujur, izzah (agung), menjaga ilmu, almuddarah bukan mudaahanah, tidak pura-pura menuntut ilmu, duduk di majelis sebelum jadi ahli ilmu, menjaga sikap ketika mandapat kekeliruan seorang ulama dan perselisihan diantara mereka, mencegah syubhat, tidak berkelompok dan berhizbi, yang wala dan baro dibangun diatasnya.
● Hak bagi gurunya: Manusia dalam bab ini terbagi menjadi dua golongan yang menyimpang dan satu golongan tengah-tengah. Akan datang pembahasan bahwa awal kesyirikan terjadi di muka bumi disebabkan syubhat ghulu (mengkultuskan) para ulama. Sehingga kita harus berada di tengah-tengah terhadap para ulama, tidak meremehkan dan tidak pula berlebih-lebihan terhadap mereka.
● Hak bagi tempatnya: Jadikanlah tempatmu dimakmurkan dengan zikir kepada Allah, apalagi mesjid, karena ia tidak di bangun untuk jual beli dan mencari barang yang hilang ataupun selainya.
● Hak bagi teman : Allah berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
-Hak untuk kitabnya: Yaitu menjaga kitabnya, karena Allah telah memberi nikmat kepada kita dengan adanya kitab ini, maka hendaknya dijaga.
● Hak untuk ilmunya: Dengan memantapkan ilmu dan selalu mengulang-ulanginya serta mengamalkannya. Karena kewajiban yang berilmu adalah untuk mengamalkannya. Setelah berilmu dan mengamalkanya baru kemdian menda’wahkannya. Karena ilmu ini adalah nikmat maka hendaknya disyukuri dengan mengamalkan dan mendawahkannya.
- Diantara adab bertanya adalah supaya bertanya dengan pertanyaan yang bermanfaat.
- Hendaknya penuntut ilmu memperhatikan penampilan dengan baik.
- Setelah meninggalnya Rasulullah, kita tidak mengatakan : Allahu wa rasuuluhu a’alam (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui), namun kita mengatakan Allahu a’lam.