Pokok yang ketiga: Mengenal Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam
Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, Hasyim dari suku Quraisy, suku Quraisy dari bangsa Arab, sedang bangsa Arab merupakan keturunan Nabi Ismail, putera nabi Ibarahim khalilullah. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam. Beliau berumar 63 tahun; diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi Nabi dan 23 tahun sebagai Nabi dan Rasul. Beliau diangkat sebagai nabi dengan surat “Iqra” dan diangkat sebagai Rasul dengan Surat “Al-Mudatssir. Tempat asal beliau adalah Mekah dan tempat hijrahnya adalah Madinah.
Terkandung dalam pembahasan ini biografi Rasulullah salallahu ‘alaihi wassallam; namanya, nasabnya, umurnya dan sebagian da’wah yang disampaikannya.
Perkara-perkara yang harus diketahui tentang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
| Nama dan nasabnya Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, Hasyim dari Quraisy, Quraisy dari Arab, dan Arab merupakan keturunan nabi Isma’il bin Ibrahim ‘alaihi sallam | Umurnya Beliau berumar 63 tahun; diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi Nabi dan 23 tahun sebagai nabi serta rasul. |
Periode Rasulullah berda’wah terbagi menjadi: dua:
| Periode Mekah, berlangsung selama 13 tahun. | Periode Madinah, berlangsung selama 10 tahun. |
Apakah Nabi Muhammad sebagai Nabi atau sebagai Rasul? Jawabannya beliau sebagai Nabi dan sebagai Rasul. Dingkat menjadi Nabi dengan surat Iqra, dan diangkat menjadi Rasul dengan surat Al-Mudatsir.
Beliau diutus oleh Allah untuk menyampaikan peringatan supaya menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ﴿١﴾ قُمْ فَأَنذِرْ ﴿٢﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ﴿٣﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ﴿٤﴾ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ﴿٥﴾ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ ﴿٦﴾ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ﴿٧﴾
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Rabbmu. Sucikanlah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu.” (QS. Al- Mudatstsir : 1-7)
Makna : “Sampaikanlah peringatan”, ialah menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.
Makna “Agungkanlah Tuhanmu” : agungkanlah Dia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata.
“Sucikanlah pakaianmu” : sucikanlah amalan-amalanmu dari syirik.
“Tinggalkanlah berhala-berhala itu”: artinya: menjauhlah serta bebaskanlah dirimu darinya dan dari orang-orang yang memujanya.
Beliaupun melaksanakan perintah ini selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu, beliau dimi’rajkan (diangkat) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau mengerjakan shalat di Mekah selama tiga tahun. Sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.
Perjalanan da’wah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
Da’wah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di Mekah difokuskan pada tauhid dan menghentikan kesyirikan serta mengikhlasakan peribadatan hanya kepada Allah Ta’ala. Da’wah pada tahap ini berlangsung sekitar tiga belas tahun.
Kemudian Rasulullah diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Da’wah pada tahap ini tetap mengusung tema tauhid dan ditambah dengan syariat-syariat yang lainnya, seperti perkara-perkara ibadah, mu’amalah dan kehidupan keseharian.
Hijrah ialah berpindah dari lingkungan kesyirikan ke lingkungan Islami. Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam. Kewajiban tersebut hukumnya akan tetap berlaku sampai hari kiamat kelak. Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً ﴿٩٧﴾ إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً ﴿٩٨﴾ فَأُوْلَـئِكَ عَسَى اللّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللّهُ عَفُوّاً غَفُوراً ﴿٩٩﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan. Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’ : 97-99).
Dan firman Allah Ta’ala :
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ
“Wahai hamba-hambaku yang beriman! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka hanya kepada-Ku saja supaya kamu beribadah.” (QS. Al-Ankabut : 56).
Imam al Baghawi rahimahullah berkata : “sebab turunnya ayat ini adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Mekah, tatkala itu mereka belum juga berhijrah. Yang mana, Allah Ta’ala tetap memanggil mereka dengan sebutan orang- orang yang beriman.
Ketika kita memperhatikan da’wah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kita akan dapatkan bahwa da’wah kepada tauhid terus berlanjut hingga beliau wafat. Ini merupakan bantahan yang sangat jelas atas mereka yang menyeru kepada manusia untuk ala kadarnya belajar tauhid. Dan menyerukan bahwa mempelajari tauhid tidak perlu memakan waktu yang lama.
Manfaat-manfaat dari perkataan penulis “dan beliau dimi’rajkan di atas langit”:
- Bahwa perkara-perkara ghaib yang diberitakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kita hanya mengatakan: “kami beriman, membenarkan dan menerima.”
- Pentingnya shalat lima waktu, karena Allah mewajibkannya di atas langit.
Macam-macam hijrah
| 1. Hijrah dari Negri kafir ke Negri Islam, hukumnya wajib. |
| 2. Hijrah dari Mekah ke Madinah, hijrah ini telah selesai setelah pembebasan Mekah. |
| 3. Hijrah dari semua yang Allah wajibkan bagi kita untuk berhijrah darinya. Baik dari amalan, pelaku perbuatan, tempat maupun waktu. - Amalan: berhijrah Dari setiap yang diharamkan Allah, sebagai kepalanya adalah kesyirikan. - pelaku perbuatan: dengan meninggalkan kaum kafir dan kaum munafik. - waktu: memboikot waktu yang dijadikan perayaan-perayaan kaum kafir. - Tempat : memboikot tempat yang dijadikan upacara kaum kafir. |
Adapun dalil dari sunnah yang menunjukkah kewajiban hijrah yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لا تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة, ولا تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها.
“Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari barat”.
- Terputusnya taubat adalah dengan salah satu dari dua perkara dibawah ini:
1. Terbitnya matahari dari barat.
2. Sakaratul maut, Allah berfirman:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً
“ Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”(An-Nisa :18).
Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menetap di Madinah, disana disyari’atkan kepada beliau zakat (1), puasa, haji, azan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta syari’at-syari’at Islam lainnya. Beliau pun melaksanakan ini selama sepuluh tahun. Sesudah itu beliau diwafatkan (2), sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari.
Inilah agama beliau, tidak ada suatu kebaikan melainkan beliau telah tunjukan kepada umatnya. Dan tiada suatu keburukan melainkan beliau telah memperingatkannya. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah. Sedangkan keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan dimurkai Allah. (3)
- Sabda Rasulullah: “Tidak ada hijrah setelah pembebasan Mekah”, maksudnya adalah tidak ada hijrah lagi dari Mekah ke Madinah. Ini merupakan isyarat bahwa Mekah tidak akan mungkin menjadi Negri kekafiran selamanya.
(1). Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Awal penyariatan zakat di Mekah. Akan tetapi nishab (takaran) dan yang wajib dikeluarkan belum ditetapkan. Setelah Rasulullah menetap di Madinah, barulah Allah menetapkan takaran dan yang wajib dikeluarkan.
(2). Rasulullah meninggal pada tahun kesepuluh setelah hijrah. Dan dimakamkan di kamar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.
(3). “Tidak ada kebaikan kecuali beliau telah tunjukan kepada umatnya dan tidak ada keburukan melainkan beliau telah memperingatkannya.”
Maka wajib bagi kita untuk bersaksi bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, menasehati umat, berjihad dengan sebenar-benarnya jihad. Beliau pula telah meninggalkan kita di atas syariat yang terang benderang dan tidak ada seorang pun yang menyimpang darinya melainkan akan hancur.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia. Namun, diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya. Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً
“Katakanlah : ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.” (QS. Al-A’raf : 158).(1)
Keharaman-keharaman yang paling besar
| Syirik besar (mengeluarkan dari Islam). | Syirik kecil (tidak mengeluarkan dari Islam). | Dosa-dosa besar (setiap dosa yang diberi hukuman yang khusus). | Dosa-dosa kecil (setiap keharaman yang tidak diberi hukuman yang khusus). |
(1). Ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah di utus kepada semua umat manusia. Dengan ini, bahwa semua syariat-syiriat terdahulu telah dihapus. Orang-orang Yahudi dan Nasrani, baik itu di zaman Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalllam ataupun di zaman kita sekarang, jika mereka tidak masuk dalam agama Islam, maka mereka disebut kaum kafir walaupun mereka tetap berada di atas syariat nabi Musa ‘alaihi sallam dan Nabi Isa ‘alaihi sallam. Dalilnya adalah:
1. firman Allah Ta’ala:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً
“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun.”
2. Dan firmanNya:
قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ ﴿٢٩﴾
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah : 29).
3. Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
والذي نفسي محمّد بيده لا يسمع بي يهودي ولا نصرني ثم لا يؤمن بي إلا كان من أهل النار
“Demi jiwa Muhammad yang berada ditangannya tidaklah mendengar tentangku, baik itu Nasrani ataupun Yahudi lalu dia tidak beriman denganku melainkan dia penduduk neraka”.
Allah telah menyempurnakan agama-Nya dengannya. Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku cukupkan ni’matKu kepadamu serta aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al- Ma’idah : 3).(2)
Adapun dalil wafatnya, firman Allah Ta’ala:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu nanti pada hari Kiamat berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu.” (QS. Az-Zumar : 30-31).
(2). Ayat ini merupakan bantahah atas semua pelaku bid’ah.
Manusia sesudah mati akan dibangkitkan kembali. Dalilnya, firman Allah Ta’ala :
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى
“Dari tanahlah kamu telah kami jadikan dan kepadanya kamu kami kembalikan, serta darinya kamu akan kami bangkitkan sekali lagi.” (QS. Thaha : 55).
Dan firman Allah Ta’ala :
وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتاً ﴿١٧﴾ ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً ﴿١٨﴾
“Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu kedalamnya (lagi) dan (pada hari kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh : 17-18).
Setelah menusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi balasan sesuai dengan perbuatan mereka sebagaimana firman Allah Ta’ala :
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
“Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik lagi (surga).” ( QS. An-Najm : 31).(1)
Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia telah kafir, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan : ‘tidaklah demikian. Demi Rabbku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7). (2)